Sabtu, 12 November 2011

Apakah Kita Sering "Mut-Mut-an?"


 Oleh : Ubaydillah, AN
  Jakarta, 01 Februari 2010
  
Keunikan Mood
Rasa-rasanya sudah biasa kita menggunakan istilah mood. Umumnyaistilah mood itu kita pahami sebagai suasana batin tertentu, bisa bad dan bisa good. Kalau melihat ke pendapat ahli, seperti yang dikutip Wikipedia misalnya, mood adalah keadaan emosi (state of emotion) yang berlangsung secara relatif, yang sebab-sebabnya seringkali subyektif atau tidak jelas. Jika seseorang merasa takut, itu ada sebabnya, entah faktual atau perceptual (sebab-sebab yang dipersepsikan seseorang). Sama juga kalau seseorang merasa gembira. Kegembiraan muncul karena sebab-sebab tertentu. Tapi untuk mood, sebabnya seringkali tidak jelas atau stimulusnya kerap kurang faktual. Misalnya  saja, kita tahu-tahu merasa bad mood saat mau berangkat ke kantor.
Penjelasan yang mirip sama juga bisa kita dapatkan dari bukunya Philip G. Zimbardo (Psychology and Life: 1979) tentang mood.Mood adalah keadaan emosi tertentu yang tidak masuk dalam kategori state (emosi yang dipicu oleh faktor eksternal tertentu) atautrait (bentuk emosi yang menjadi bawaan seseorang). Perubahan mood  bisa berlangsung dalam ukuran jam atau hari. Bagi sebagian orang, perubahan mood kerap mempengaruhi gairahnya untuk  melakukan sesuatu atau bahkan bisa mempengaruhi keputusan dan tindakannya. Sejauh pengaruh itu tidak menyangkut ke urusan yang penting dan sangat menentukan, mungkin masih bisa kita bilang biasa.  Namanya juga orang hidup. Alam saja punya musim dan cuaca.
Tapi, bila itu sudah merembet ke urusan yang sangat penting, maka sulit rasanya untuk mengatakan itu biasa. Misalnya kita sedang menekuni keahlian tertentu. Jika gairah kita lebih sering dikendalikan oleh perubahan mood, mungkin akan sangat pelan kemajuan yang bisa kita raih, yang mestinya bisa kita raih lebih cepat, jika seandainya kita tidak mut-mutan (moody). Lebih-lebih jika perubahan mood itu sering kita alami sudah menyangkut ke urusan dengan orang lain atau organisasi. Misalnya kita tiba-tiba membatalkan janji dengan mitra gara-gara mood. Kita mengubah haluan yang sudah disepakati orang banyak gara-gara mood; atau kita mengambil keputusan penting yang menyangkut keluarga karena soal mood. Gampangnya ngomong, kita sudah menjadi orang yang mut-mutan sehingga sulit dipegang.
 
Mood Disorder
Di dalam kajian Psikologi, ada istilah yang akrab disebut mood disorder atau perubahan mood yang sudah tidak sehat lagi atau kacau. Dr. C. George Boeree, dari Shippensburg University (Mood Disorder: 2003), menjelaskan bahwa Mood Disorder itu merupakan sisi ekstrim yang sudah tidak sehat (patologis) dari perubahan mood tertentu, misalnya terlalu girang atau terlalu malang (sadness and elation). 
Definisi di atas rasa-rasanya sudah cukup untuk kita jadikan sebagai acuan perbaikan diri. Lain soal kalau kita ingin menggunakannya untuk presentasi tugas-tugas akademik yang menuntut sekian teori, perspektif, dan analisis data atau fakta. Untuk kepentingan perbaikan diri, pengaruh perubahan mood yang perlu kita deteksi itu antara lain adalah:
  • Apakah perubahan mood itu sudah benar-benar ekstrim hingga sudah bisa dibilang sangat membahayakan, misalnya ugal-ugalan saat berkendaraan di jalan raya atau membanting barang-barang yang berguna buat kita hingga fatal?
  • Apakah perubahan mood itu sudah benar-benar dapat melumpuhkan fungsi kita dengan sekian tanggung jawab yang harus kita jalankan hingga kita menjadi orang yang “EGP” (Emang Gue Pikiran) terhadap tugas-tugas kantor, tanggung jawab profesi,  atau tugas sebagai orangtua? 
  • Apakah perubahan mood itu sudah membuahkan tanda-tanda rusaknya hubungan kita dengan orang lain gara-gara misalnya banyak janji yang tidak kita tepati, banyak missed call atau SMS yang tidak kita jawab, dan lain-lain?

Sekian jawaban yang bisa kita gali dari pertanyaan di atas memang masih belum tentu bisa disebut Mood Disorder secara teori keilmuannya. Hanya saja, dengan menggunakan akal sehat, pasti kita sudah bisa menyimpulkan bahwa perubahan mood yang sudah menimbulkan bahaya dan kerusakan, tentu bukan lagi urusan yang biasa atau normal.
 
Gaya Hidup Depresif
Apa yang pertama-tama perlu kita telaah ketika perubahan mood yang kita alami itu sudah berdampak pada hal-hal buruk seperti di atas? Salah satu yang terpenting adalah gaya hidup, kebiasaan, atau tradisi, dalam arti prilaku yang berulang-ulang kita lakukan secara hampir tidak kita sadari sepenuhnya. Pertanyaannya, gaya hidup seperti apa? Gaya hidup yang bisa menjelaskan munculnyamood secara kebablasan (patologis) adalah gaya hidup depresif.  Seperti sudah sering kita baca di sini, depresi itu adalah stress yang berlanjut atau gagal kita tangani secara positif.  Dalam prakteknya, depresi itu ada yang sifatnya respondent dan ada yang sifatnya sudah menjadi tradisi yang berlangsung lama.
Depresi yang sifatnya respondent umumnya dipicu oleh kejadian eksternal yang kita rasakan stressful, seperti misalnya ada tragedi diri yang membuat kita harus hengkang dari kantor atau perusahaan yang selama ini kita besarkan, perceraian yang diawali peristiwa yang menyakitkan, atau kematian yang tidak normalnya menimpa orang tersayang, dan berbagai peristiwa lain yang sulit kita terima secara langsung. Jika acuannya praktek hidup, depresi yang respondent umumnya diketahui sebab-sebabnya atau kronologisnya. Ini agak beda dengan depresi yang sudah menjadi gaya hidup. Mungkin ada pemicunya, tetapi pemicu itu tidak kita sadari sehingga menggunung dan berlahan-lahan membuat kita merasa dikelilingi oleh berbagai beban, tekanan, dan ancaman.

Untuk menelaan apakah praktek hidup kita sehari-hari sudah diliputi berbagai beban, tekanan, dan ancaman yang depresif itu, mungkin gejala umum di bawah ini dapat kita jadikan acuan:
  • Menurunnya energi untuk melakukan sesuatu, bad mood.
  • Sulit berpikir atau berkonsentrasi sehingga membuat kita lupa atau tidak menyadari tanggung jawab, dari mulai yang sepele, katakanlah seperti lupa membayar makanan yang kita ambil, dan semisalnya
  • Inginnya tidur terus atau sulit tidur, ingin makan terus atau sulit makan
  • Tidak care lagi terhadap urusan penampilan, misalnya acak-acakan
  • Sulit mengambil keputusan atau cepat berubah-ubah keputusannya (tidak bisa dipegang)
  • Mengalami kelambanan psikomotorik, seperti ngomongnya sepenggal-sepengal, lamban meresponi sesuatu, atau males ngomong
  • Berpikir secara tidak sehat mengenai kematian
 
Membebaskan Diri Dari Depresi
Di literaturnya, memang banyak pernyataan ahli yang mengingatkan agar kita tidak cepat berkesimpulan bahwa perubahaan mood yang sudah menciptakan gangguan itu murni karena depresi. Untuk mengetahui sebab-sebab yang spesifik, diperlukan pendalaman oleh tenaga ahli. Dan itu umumnya butuh waktu. Tapi, hampir semua sepakat bahwa depresi dapat membuat seseorang lebih sering dikendalikan oleh suasana batin dalam mengambil keputusan sehingga layak bisa dibilang mut-mutan. Karena batin kita sedang depresif, maka keputusan kita pun mencerminkan gejala-gejala depresi seperti di atas. Misalnya tidak konsentratif, tidak bergairah untuk bertanggung jawab, dan seterusnya.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan agar depresi itu tak sampai membuahkan kebiasaan moody? Akan dibilang sombong jika kita berpikir sanggup mengantisipasi peristiwa depresif seratus persen. Banyak peristiwa menyakitkan yang tak sanggup diantisipasi oleh manusia atau oleh negara sekali pun, misalnya bencana. Ada bencana yang karena ulah manusia, tetapi ada yang karena sudahmaktub (tertulis).
Karena itu, selain memang perlu mengantisipasi, kita pun perlu melakukan mekanisasi (menciptakan mekanisme pertahanan-diri) untuk menghadapi peristiwa yang sudah tak bisa diantisipasi. Mekanisme ini dapat kita kelompokkan menjadi dua, yaitu:
1.     Mekanisme eksternal
2.     Mekanisme internal
Katakanlah kita kini merasakan situasi kantor atau rumah tangga yang benar-benar depresif dan sebab-sebabnya sudah ruwet, seperti benang kusut. Mekanisme eksternal yang bisa kita lakukan antara lain: mengatur (to manage), mengubah, memperbaiki, atau pindah ke situasi baru.  Tapi ini men-syaratkan kemampuan, kemantapan, dan tangggung jawab. Jika itu belum sanggup kita jalankan, maka yang bisa kita lakukan adalah menciptakan mekanisme internal. Jumlah dan bentuk mekanisme internal yang diciptakan Tuhan untuk mempertahankan hidup itu sangat tak terbatas, dari mulai menciptakan interpretasi baru, opini baru, definisi baru, makna baru, refleksi baru, sikap baru dan seterusnya.
Mekanisme internal itu intinya adalah upaya kita menciptakan pikiran, perasaan, dan keyakinan yang membuat kita menjadi lebih kuat dan lebih tercerahkan. Mekanisme internal ini bahkan lebih berperan ketimbang mekanisme eksternal dalam mengkondisikan seseorang menjadi depresi atau tidak. Dalam prakteknya, belum tentu orang yang di penjara itu lebih depresif ketimbang orang yang bebas. Belum tentu orang yang namanya dan gambarnya dijadikan sasaran tudingan dan hinaan di media atau demo itu lebih depresif. Bisa ya dan bisa tidak, atau bahkan malah bisa semakin matang, tergantung mekanisme internalnya.

Yang perlu kita jauhi bersama adalah, sudah kita belum mampu menciptakan mekanisme eksternal (karena soal berbagai cost), menciptakan mekanisme internal yang gratis pun tidak kita ciptakan. Atau malah membangun mekanisme internal yang semakin men-depresi-kan diri sendiri hingga membuat kualitas keputusan hidup kita menurun drastis atau mut-mutan melulu. Memang, mekanisme internal itu muncul dari sekian dukungan, mungkin nilai, ilmu, informasi, dan yang terpenting lagi adalah latihan (proses dan prosesi).
Semua dukungan itu hanya akan kita dapatkan setelah ada pondasi yang kuat, yaitu:
1.     Munculnya dorongan untuk berubah ke arah yang lebih baik
2.     Menyadari adanya kebutuhan untuk berubah.

Jika dua hal ini tidak ada, mungkin semua pintu akan tertutup. Dari laporan penelitian beberapa ahli diakui bahwa yang membuat orang tak kunjung bisa menguasai mood-nya adalah karena orang itu tidak menyadari adanya kebutuhan untuk mengubah dirinya. Bahkan mungkin merasa itulah yang benar.
 
Berpikir Hidup Ini Hanya Sekali
Tidak semua perubahan hidup yang kita nilai sangat fundamental itu harus dimulai dari pemikiran yang canggih, pintar, dan kompleks. Itulah hebatnya keadilan Tuhan. Adakalnya bisa dimulai dari pemikiran yang sederhana, yang tidak hanya diketahui oleh para profesor, dan mungkin salah. Contohnya adalah berpikir “Hidup ini hanya sekali”. Untuk kita, ini salah karena hidup itu dua kali, tidak ada kalimat yang canggih di situ, dan  tak ada teori yang melatarbelakanginya. Tapi, jika kita berhasil menggunakannya untuk mengantisipasi munculnya gaya hidup yang depresif, hasilnya akan canggih. Dengan berpikir seperti itu, kita akan segera sadar, untuk apa kita membiarkan diri larut dan hanyut ke dalam gaya hidup yang depresif, wong hidup hanya seperti mampir ngombe(numpang minum) saja? Kenapa nggak kita nikmati saja hidup yang hanya sekali ini dengan sekian mekanisme yang bisa kita buat? “Gitu aja kok repot?”, mengenang ucapan Gus Dur semasa masih hidup.
 
Semoga bermanfaat.

Kiat Menerima Kekalahan


Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 04 Mei 2009
Sejak tahun 2004, suasana perpolitikan kita kita memang beda. Dulu, pejabat politik itu bisa dikatakan dipilih dari atas. Rakyat nyaris tak terlibat secara signifikan dalam menentukan wakilnya. Tapi, setelah itu keadaan berbalik. Rakyatlah yang diberi kesempatan memilih sehingga rakyat pun ada yang meng-convert-dirinya menjadi seperti gadis cantik yang diperebutkan para lelaki.

Konsekuensi buruknya, untuk merebut hati rakyat itu butuh usaha keras dengan berbagai cara, termasuk memanfaatkan peristiwa bencana alam, dan butuh kesediaan memberikan apa yang dimiliki untuk mencari perhatian. Selain  material, tenaga, dan pikiran, dibutuhkan juga finansial. Malah menurut caleg yang saya tanya, itu masih belum cukup. "Sekarang ini harus ditambah dengan air mata", katanya begitu. 

Bagi yang kalah, cara-cara merebut hati rakyat yang demikian itu tak pelak mewariskan efek psikis tersendiri. Ada caleg yang marah sama rakyat. Sudah dikasih tanah untuk jadi jalan umum, tetapi namanya tak jadi pemenang.  Tanah itu akhirnya diambil lagi. Ada yang memberi karpet untuk majlis taklim, tetapi namanya tak terpilih, akhirnya karpetnya diambil lagi. Bahkan ada yang bunuh diri karena jumlah suara yang memilihnya meleset secara fantastis.

Menurut berita, jumlah pasien rumah sakit jiwa di Jateng meningkat 100% paska pemilu. Belum diketahu secara valid hubungan korelatif antara kekalahan dalam pemilu dan stress jiwa. Hanya, berdasarkan catatan Pilkada tahun 2008 kemarin, hubungan antara stress jiwa dan kalah sudah menjadi semacam sebab-akibat. Dan hubungan antara amarah tak terkendali dengan kekalahan pun sudah menjadi sebab-akibat juga. Tampaknya, kalimat siap menang tidak siap kalah tepat sekali untuk menggambarkan fenomena ini.


Jagoan & Penyembuh
Efek psikis yang kita terima dari kekalahan pemilu mungkin berbeda karena latar belakang kesejarahan dan mentalitas yang berbeda. Bagi yang punya kesiapan mental bagus atau pura-pura bagus, mungkin efek psikisnya tak seberat yang dialami mereka yang hanya siap menang tapi tak siap kalah. Kesiapan mental menentukan rasa pukulan. Tapi kesiapan mental ada yang tidak riil. Jadi, sebelum sempat kecewa, sudah ada cadangan cara untuk menangkis kekecewaan, entah dengan menyalahkan orang lain, menggugat, merasionalisasikan sendiri, atau larinya ke merokok, makan, bahkan ke religi. Ada pula yang kesehatan fisiknya langsung drop.   

Demikian juga dengan keamanan finansial. Bagi yang masih memiliki back-up finansial cukup atau berlebih, kekalahan mungkin tak memberi efek psikis seberat yang dialami mereka yang telah habis-habisan dan masih juga menanggung hutang. Seorang calon bupati ada yang telah habis asetnya dan masih menanggung hutang 9 milyar dan akhirnya stress berat di rumah sakit jiwa.

Posisi tawar (bargain) kita dalam pemilu kemarin juga ikut menentukan besarnya efek psikis dari kekalahan. Seandainya kita termasuk orang yang dicalonkan, yang berarti tak terlalu bernafsu harus menang, mungkin akan beda dengan mereka yang berusaha keras mencalonkan diri sambil setengah memaksa untuk ikut bertanding dengan kesediaan untuk habis-habisan.


Persepsi Terhadap Kegagalan
Persepsi kognitif dalam menafsirkan kekalahan juga ikut memberi perbedaan efek psikis. Orang yang melihat kekalahannya secara rasional, menafsirkan kekalahan sebagai kesementaraan, dan bersyukur masih diberi kesempatan untuk melanjutkan kehidupan, akan merasakan efek psikis yang lebih ringan ketimbang mereka yang melihat kekalahan sebagai kuburan, kehancuran, dan keterhempasan.

Menurut survei, self-esteem (punya perasaan baik terhadap diri berdasarkan alasan positif yang nyata) dan self-efficacy (pengetahuan tentang kemampuan yang memunculkan keyakinan kuat / pede) ternyata punya dukungan yang sangat besar atas kekuatan jiwa setelah mengalami berbagai pukulan buruk, seperti kekalahan ini.

Pengalaman / jam terbang pun ikut memberikan perbedaan efek psikis. Secara umum, para senior yang sudah berkali-kali merasakan kalah-menang dalam pemilu akan lebih leluasa memainkan berbagai mekanisme mental dalam menghadapi kekalahan. Ini mungkin beda dengan para junior yang baru sekali ini ikut bertanding dan kalah. 

Terlepas apapun latar belakang kekalahan itu, baiknya kita harus bisa memainkan dua peranan. Pertama, kita harus memainkan peranan seorang jagoan (warrior). Jagoan tak menerima kekalahan dengan hati yang hancur (pecundang), bahkan tak melihat kekalahan sebagai kehancuran dirinya. Kedua, memainkan peranan sebagai penyembuh luka hati (self-healer). Sampai kita tak bisa menjadi penyembuh, maka rumah sakitlah yang akan mengambil peranan itu.

Untuk bisa menjadi penyembuh, nasehat leluhur kita mensyaratkan 5W berikut ini:

  • Wenang (W1): menguasai diri supaya jangan larut dan hanyut merasakan  kekalahan karena Andalah yang punya otoritas terhadap diri Anda.     
  • Wening (W2): berusaha memunculkan pikiran dan perasaan positif terhadap kekalahan dan diri sendiri secara jernih
  • Waskita (W3): berusaha untuk melawan masuknya pikiran dan perasaan negatif secara sadar agar hidup kita tak makin gelap
  • Waspada (W4): berusaha untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang bakal terjadi supaya jangan sampai sudah kalah masih harus tertimpa tangga lagi, baik yang terkait dengan kita langsung atau keluarga
  • Wicaksono (W5): berusaha memunculkan pikiran dan tindakan yang bijak, membawa kebaikan dan kemaslahatan untuk kita, keluarga, atau pendukung. Jangan sampai mau tergoda membiayai massa untuk melakukan kekerasan sehingga ada yang kehilangan nyawa. Atau membeli suara massa  dan kalau sudah dapat di telantarkan.

"You must become the warrior and the healer all at once."
(ajaran Tao)

Me-monitori-ng Stress
Ada hal lain yang penting kita lakukan saat menikmati kekalahan. Itu adalah memonitoring stress. Stress seperti apa yang perlu diawasi? Kalau mengikuti teorinya,stress itu bisa kita bedakan menjadi tiga. Pertamastress karena tekanan dari luar (external stimulant), termasuk kalah dalam pemilu, ditagih hutang, atau dimarahi keluarga.

Keduastress karena respon kita dalam melihat kekalahan itu yang terlalu subyektif, terlalu personal, atau terlalu negatif. Semakin mampu kita menafsirkan kekalahan politik sebagai hal yang normal-normal aja, maka semakin ringan stress-nya. Tapi jika sampai terbawa mimpi karena terlalu diambil hati, mungkin stressnya akan tinggi.

Ketigastress karena beban fisik yang berlebihan saat kampanye. Beban fisik yang berlebihan dapat menimbulkan stress bahkan bisa kesurupan (kehilangan kontrol-diri). Di luar Jawa, ada yang meninggal akibat terlalu capek karena  ego ambisinya tetap memaksa untuk kerja siang malam.

Nah, memonitoring stress ini penting terutama saat kita habis menerima pukulan mendadak dalam berbagai hal supaya kita tahu mekanisme yang tepat untuk mengatasinya. Stress karena respon subyektif tak terlalu butuh orang lain untuk ikut menangani. Kita bisa membaca buku atau bertukar pikiran dengan kawan atau meminta nasehat pada guru. Tapi, karena hutang kaos atau kendaraan, butuh duit dan kesepakatan.

Yang paling penting, tujuan memonitor stress ini adalah jangan sampai stress kita berlanjut menjadi depresi. Bagaimana prosesnya dan apa saja gejala yang perlu kita amati, rasa-rasanya ini sudah sering kita bahas di sini. Silahkan itu kita  gunakan sebagai referensi untuk memonitor diri. Intinya, stress itu memberikan signal buruk pada fisik, kapasitas intelektual, kapasitas emosional, spiritual, mental dan sosial.

Perlu kita ingat juga bahwa tidak berarti kalau kita stress itu langsung otomatis kita menjadi jelek. Begitu juga kalau kita tidak stress tidak berarti masa depan kita akan lebih baik. Yang menentukan diri kita di hari esok bukan stress yang kita alami hari ini, tetapi apa yang akan kita lakukan terhadap stress itu.

"What is in you is more powerful than what is on you"
 (John Maxwell)

Mekanisme Positif & Negatif
Di luar dari apa yang sudah sering kita bahas di sini, secara umum, mekanisme kita dalam menangani stress itu ada yang positif dan ada yang negatif. Yang termasuk mekanisme positif itu antara lain:

  • Menghayati keyakinan dan nilai-nilai, entah dari ajaran agama, kultur atau berbagai sumber kearifan lain. Kekalahan yang sudah terjadi termasuk takdir Tuhan yang tak bisa diubah, tetapi nasib kita yang ingin kita ubah menjadi lebih baik, termasuk takdir yang membuka perubahan, makin dekat dengan Tuhan, dst
  • Membuka diri terhadap dukungan dari luar, misalnya keluarga, komunitas, sahabat, profesional, dan lain-lain agar kita menemukan perspektif yang lebih sehat.
  • Me-restruktur pemikiran, misalnya membuat rencana baru yang lebih bagus,  rencana mengantisipasi problem, rencana mensolusi masalah. Semakin terasa kita sudah sanggup mengontrol-diri, akan semakin terasa berbunga-bunga lagi hidup kita. 
  • Merasionalisasi langkah menuju perubahan atau merealisasikan rencana. Yang paling ideal adalah menemukan jawaban sebanyak mungkin dari pertanyaan tunggal ini: "apa yang bisa kita lakukan hari ini, dengan apa yang ada, dari lokasi kita saat ini, untuk membuat hidup kita lebih baik?"
  • Mengisi waktu untuk hal-hal positif, menyenangkan, dan dengan orang-orang positif, misalnya membaca buku, mengikuti forum positif, merayakan kekalahan dengan humor, dan lain-lain. 

Intinya, mekanisme positif itu banyak. Cuma, ada yang efeknya hanya pada suasana perasaan dan ada yang sampai bisa mengubah nasib hidup kita. Humor, menonton, jalan-jalan atau semisal biasanya hanya mengubah isi perasaan. Tetapi menjalankan agenda perubahan yang telah kita rumuskan dengan komitmen untuk belajar, selain akan mengubah suasana perasaan, juga akan mengubah hidup kita.

Sedangkan yang termasuk mekanisme negatif itu antara lain:
  • Memperpanjang penolakan, tak mau terima kalah, di dalam batin dan di dalam tindakan
  • Hanya sibuk merasakan tekanan namun tak mau mengambil tindakan agar tekanan itu hilang, menyesali masa lalu, dan seterusnya.
  • Menutup diri, entah karena rasa malu, rasa marah, atau jengkel
  • Menjauhkan-diri, menolak konsekuensi keputusan, misalnya lari atau menghilang.
  • Mendalami pemikiran yang ekstrim, entah kiri atau kanan, karena marah atau lemah menghadapi kenyataan, misalnya judi, minum, atau dalang kerusuhan atau ikut kegiatan yang mengatasnamakan agama dengan konsekuensi harus lari dari realitas. 


Walaupun Kalah Tetapi Harus Jadi Pemenang
Realitas itu ada dua, realitas fisik atau faktual, dan realitas batin, perseptual, atau spiritual. Walaupun secara faktual kita nyata-nyata kalah, tetapi secara spiritual dan perseptual, jangan sampai kita mendefinisikan diri sebagai orang kalah, dalam arti harus menang terhadap diri sendiri. Sebagai buktinya adalah:
  • Mampu menerima kejadian yang sudah tak bisa diubah,
  • Mampu mengubah masa depan yang masih bisa diubah
  • Mampu menghindari tindakan yang pasti akan mendatangkan perubahan buruk.



Semoga bermanfaat.

sebuah pertanyaan


Aku bertanya, apa arti hidup sesungguhnya. sudah lama, sangat lama.
Satu tujuan hidup yang kuketahui dan jelas adalah hanya untuk menyembah-Nya. ya,
tapi bagaimana dengan waktu2 yang lain?

katanya, semua yang kita lakukan di dunia ini hanya sementara, lalu kenapa kita harus hidup di dunia?
menurutmu?

[REVIEW] Dan Hujan pun berhenti

Dan hujan pun berhenti - Farida Susanty...

Salah satu novel Farida Susanty ini dapat mengimajinasimu, membuatmu merasakan pedihnya kehidupan. Leo(tokoh utama) yang selalu disakiti dan dikhianati kepercayaannya tak percaya siapa-siapa lagi, termasuk orang tuanya, sakit hatinya yang selalu menjalar dalam hidupnya, serta kepergian Iris, membuatnya menjadi seorang yang sangat Childish dalam hidupnya.
Penceritaannya dan gaya bahasanya, membuat kadang merinding dan kadang mengeluarkan air mata, terutama saat tokoh membela dirinya. Sedih,,
salah satu novel yang bisa membuatku mengeluarkan air mata walau tak sampai jatuh.

Leo hanya ingin hidup seperti orang biasa, mempunyai sebuah keluarga utuh. itu saja.

Selasa, 08 November 2011

What is A Friend


What Is A Friend?

A friend is someone you hold dear: 
Someone who is always there, through thick and thin; 
Someone who is only a phone call away.
A friend is someone you can always rely on:
Someone who is there to share your thoughts with;
Someone to listen, no matter the subject.
A friend is someone you can feel comfortable with:
Someone you can sit silently beside, without conversation;
Someone you do not need to fill the quiet moments with.
A friend is someone you can trust:
Someone who will guard your deepest secrets;
Someone who will never let you down.
A friend is someone who is not judgmental:
Someone who will gently offer advice and opinions,
Yet, someone who is not overbearing or critical.
A friend is someone who can keep you grounded:
Someone who can help you see through your obstacles;
Someone to shoulder you through life's trials.
A friend is someone who shares unconditionally:
Someone to laugh and to cry with;
Someone to lean on, through both the good and the bad.
A friend is someone you choose wisely,
For a friend is your own mirrored image:
Someone to compliment your own self;
Someone who indicates who you are as a person.
A friend.... is what you are to me.
(c) 1999 Kit Mccallum 

Top 10 Reasons to Smile


1. Smiling Makes Us Attractive

2. Smiling Changes Our Mood

3. Smiling Is Contagious

4. Smiling Relieves Stress

5. Smiling Boosts Your Immune System

6. Smiling Lowers Your Blood Pressure

7. Smiling Releases Endorphins, Natural Pain Killers and Serotonin

8. Smiling Lifts the Face and Makes You Look Younger

9. Smiling Makes You Seem Successful

10. Smiling Helps You Stay Positive



Apa aku adalah seorang teman yang Buruk?

oke, aku emang ga pinter berteman
aku emang ga punya banyak teman
aku emang bukan temen yang peka
aku bukan teman yang sempurna
aku bukan teman yang bisa selalu disampingmu
aku bukan teman yang suka melihatmu bersedih

tapi teman, banyak hal yang aku rahasiakan
aku memang tak punya banyak teman
tapi aku selalu ingin menjadi temanmu
aku memang tak peka
tapi aku selalu berusaha mengerti dirimu
aku memang ga sempurna
tapi aku ingin bisa menjadi teman yang mengisi harimu
aku memang tak bisa selalu disampingmu
tapi aku selalu ingin disampingmu, selalu melihat senyummu
aku memang tak suka melihatmu bersedih
dari itu aku selalu ingin melihat senyummu

walau masalah melandamu
kekesalan merajai dirimu
ingatlah, ada aku..
yang selalu merasa bersalah saat kau merasa seperti itu
yang selalu bisa kau jadikan tempatmu untuk bersandar
yang selalu senang jika melihatmu tersenyum

tetaplah tersenyum,
seberat apapun masalah yang melandamu
sekesal apapun dirimu

kau boleh menunjukkan semua rasa yang kau rasakan
tapi, percuma bukan?
menunjukkan itu sama sekali tidak membantu menghilangkan masalahmu
tersenyum juga tidak, tapi setidaknya
dengan tersenyum dan tertawa
kau akan melupakan masalah itu.

dan aku bukan teman yang suka sendirian. kau tau itu..
just keep smiling...
dan biarlah aku yang tersakiti asal aku bisa melihat senyummu..
#ecieee

Minggu, 06 November 2011

uhmm...


the way i smile
the way i lie

the way i laughed
the way i cry

the way i try
the way i lose

the way i positive thinking
the way i get a negative

the way i wanna scream
the way my voice hold me back

the way i wanna play
the way i feel loneliness

what happen to me? i ask to myself.
no, forget it.